PENDAHULUAN
- LATAR BELAKANG
Normalitas merupakan keadaan yang sehat, manusia yang mampu menguasai
segala factor dalam hidupnya sehingga ia dapat menguasai kekalutan mental
sebagai akibat dari tekanan-tekanan perasaan. Abnormalitas atau juga disebut
perilaku abnormal merupakan suatu yang dianggap berlebihan di masyarakat.
Juga merupakan kondisi emosional seperti kecemasan dan depresi yang
tidak sesuai dengan situasinya. Normalitas dan abnormalitas mempunyai
batasan nya sendiri. Batas
antara normal dengan abnormal pun bukan dilihat sebagai dua kutub yang
berlawanan, melainkan lebih berada dalam satu kontinum sehingga garis yang
membedakan sangatlah tipis.
- RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan
latar belakang tersebut penulis merumuskan masalah pada makalah ini, sebagai
berikut:
a.
Apa itu Normal ?
b.
Apa itu Abnormal ?
c.
Bagaimana Definisi Normal Menurut Para
Ahli ?
d.
Bagaimana Definisi Abnormal Menurut Para
Ahli ?
e.
Bagaimana Perilaku yang Abnormal ?
- TUJUAN
Berdasarkan
rumusan masalah tersebut, tujuan penulisan makalah ini sebagai berikut:
a.
Mendeskripsikan Definisi Normal
b.
Mendeskripsikan Definisi Abnormal
c.
Mendeskripsikan Definisi Normal Menurut
Para Ahli
d.
Mendeskripsikan Definisi Abnormal
Menurut Para Ahli
e.
Mendeskripsikan Perilaku yang Abnormal
TEORI
A.
NORMAL
Normal adalah keadaan sehat (tidak patologis) dalam hal fungsi
keseluruhan. Sedangkan
Perilaku Normal adalah perilaku yang adekuat (serasi dan tepat) yang
dapat diterima oleh masyarakat pada umumnya.
Definisi Normal menurut para Ahli :
- Musthafa Fahmi, mengatakan kesehatan jiwa adalah bebas dari gejala-gejala penyakit jiwa dan gangguan kejiwaan.
- Pepkin’s : Sehat adalah suatu keadaan keseimbangan yang dinamis antara bentuk tubuh dan fungsi yang dapat mengadakan penyesuaian, sehingga dapat mengatasi gangguan dariluar.
- Allport, manusia sehat adalah manusia yang mencapai kematangan.
- Maslow, manusia sehat adalah manusia yang mampu mengaktualisasikan dirinya dan mencapai kebahagiaan.
- Kesehatan mental menurut UU No.3/1961 adalah suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual, emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan orang lain.
Dari beberapa
defenisi yang telah dikemukakan di atas, maka dapat dipahami bahwa orang yang
sehat mentalnya adalah terwujudnya keharmonisan dalam fungs fisik,ijiwa dan
sosial serta tercapainya kemampuan untuk menghadapi permasalahan sehari-hari,
sehingga merasakan kebahagiaan dan kepuasan dalam dirinya. Seseorang dikatakan
memiliki mental yang sehat, bila ia terhindar dari gejala penyakit jiwa dan
memanfatkan potensi yang dimilikinya untuk menyelaraskan fungsi jiwa dalam
dirinya.
B.
ABNORMAL
Abnormal adalah menyimpang dari yang normal (tidak biasa
terjadi).(Maramis, 1999). Perilaku Abnormal adalah kondisi
emosional seperti kecemasan dan depresi yang
tidak sesuai dengan situasinya Perilaku Abnormal terdiri dari
dua kata yaitu Perilaku dan Abnormal, Perilaku menurut kamus
bahasa Indonesia adalah tingkah laku seorang manusia/ sikap seorang manusia,
sedangkan Abnormal dapat didefinisikan sebagai hal yang jarang terjadi (seperti
kidal) atau penyimpangan dari kondisi rata-rata (seperti tinggi badan yang
ekstrem). Abnormalitas umumnya ditentukan berdasarkan munculnya beberapa
karakteristik sekaligus dan definisi terbaik untuk ini menggunakan beberapa
kareakteristik Kejarangan statistik, Pelanggaran norma, distress pribadi,
ketidakmampuan atau disfungi, dan repons yang tidak diharapkan
Perilaku Abnormal yang terjadi pada kondisi emosional biasa terjadi kapan saja dalam
kehidupan manusia, Mereka kadang-kadang bisa terjadi dan sudah terjadi dalam kehidupan
orang lain. Sebuah masalah emosional dapat menyebabkan seseorang mengalami
gangguan secara mental dan fisik.
Psikologi
abnormal kadang-kadang disebut juga psikopatologi. Dalam bahasa Inggris
dinyatakan dengan istilah Abnormal Psychology. Berikut dikemukakan beberapa
definisi Psikologi Abnormal menurut beberapa ahli:
1.
Menurut Kartini Kartono (2000: 25), psikologi abnormal adalah salah satu cabang
psikologi yang menyelidiki segala bentuk gangguan mental dan abnormalitas jiwa.
2.
Singgih Dirgagunarsa (1999: 140) mendefinisikan psikologi abnormal atau
psikopatologi sebagai lapangan psikologi yang berhubungan dengan kelainan atau
hambatan kepribadian, yang menyangkut proses dan isi kejiwaan.
3.
Berkenaan dengan definisi psikologi abnormal, pada Ensiklopedia Bebas Wikipedia
(2009), dinyatakan “Abnormal psychology is an academic and applied subfield of
psychology involving the scientific study of abnormal experience and behavior
(as in neuroses, psychoses and mental retardation) or with certain incompletely
understood states (as dreams and hypnosis) in order to understand and change
abnormal patterns of functioning”.
4.
Definisi psikologi abnormal juga dapat dijumpai di Merriem-Webster OnLine
(2009). Pada kamus online tersebut dinyatakan : “Abnornal psychology : : a
branch of psychology concerned with mental and emotional disorders (as
neuroses, psychoses, and mental retardation) and with certain incompletely
understood normal phenomena (as dreams and hypnosis)”.
Dari
empat definisi yang dinyatakan dengan kalimat yang berbeda tersebut dapat
diidentifikasi pokok-pokok pengertian psikologi abnormal sebagai berikut.
1.
Psikologi abnormal merupakan salah satu cabang dari psikologi atau psikologi
khusus.
2.
Yang dibahas dalam psikologi abnormal adalah segala bentuk gangguan atau
kelainan jiwa baik yang menyangkut isi (mengenai apa saja yang mengalami
kelainan) maupun proses (mengenai factor penyebab, manifestasi, dan akibat dari
gangguan tersebut).
PERILAKU
ABNORMAL
Ada
beberapa kriteria yang digunakan untuk menentukan suatu perilaku abnormal,
antara lain:
1. Statistical
infrequency
Perspektif
ini menggunakan pengukuran statistik dimana semua variabel yang yang akan
diukur didistribusikan ke dalam suatu kurva normal atau kurva dengan bentuk
lonceng. Kebanyakan orang akan berada pada bagian tengah kurva, sebaliknya
abnormalitas ditunjukkan pada distribusi di kedua ujung kurva.
Namun,
kita jarang menggunakan istilah abnormal untuk salah satu kutub (sebelah
kanan). Misalnya orang yang mempunyai IQ 150, tidak disebut sebagai abnormal
tapi jenius.
2. Unexpectedness
Biasanya
perilaku abnormal merupakan suatu bentuk respon yang tidak diharapkan terjadi. Seperti
seseorang tiba-tiba menjadi cemas (misalnya ditunjukkan dengan berkeringat dan
gemetar) ketika berada di tengah-tengah suasana keluarganya yang berbahagia. Respon
yang ditunjukkan adalah tidak diharapkan terjadi.
3. Violation
of norms
Perilaku
abnormal ditentukan dengan mempertimbangkan konteks sosial dimana perilaku
tersebut terjadi. Jika perilaku sesuai dengan norma masyarakat, berarti normal.
Sebaliknya jika bertentangan dengan norma yang berlaku, berarti abnormal. Kriteria
ini mengakibatkan definisi abnormal bersifat relatif tergantung pada
norma masyarakat dan budaya pada saat itu.
Walaupun
kriteria ini dapat membantu untuk mengklarifikasi relativitas definisi abnormal
sesuai sejarah dan budaya tapi kriteria ini tidak cukup untuk mendefinisikan
abnormalitas.
4. Personal
distress
Perilaku
dianggap abnormal jika hal itu menimbulkan penderitaan dan kesengsaraan bagi
individu.
Tidak
semua gangguan (disorder) menyebabkan distress. Misalnya psikopat yang
mengancam atau melukai orang lain tanpa menunjukkan suatu rasa bersalah atau
kecemasan.
Juga
tidak semua penderitaan atau kesakitan merupakan abnormal. Misalnya seseorang
yang sakit karena disuntik.
Kriteria
ini bersifat subjektif karena susah untuk menentukan setandar tingkat distress
seseorang agar dapat diberlakukan secara umum.
5. Disability
Individu
mengalami ketidakmampuan (kesulitan) untuk mencapai tujuan karena abnormalitas
yang dideritanya. Misalnya para pemakai narkoba dianggap abnormal karena
pemakaian narkoba telah mengakibatkan mereka mengalami kesulitan untuk
menjalankan fungsi akademik, sosial atau pekerjaan.
Dari
semua kriteria di atas menunjukkan bahwa perilaku abnormal sulit untuk
didefinisikan. Tidak ada satupun kriteria yang secara sempurna dapat membedakan
abnormal dari perilaku normal. Tapi sekurang-kurangnya kriteria tersebut
berusaha untuk dapat menentukan definisi perilaku abnormal. Dan adanya kriteria
pertimbangan sosial menjelaskan bahwa abnormalitas adalah sesuatu yang bersifat
relatif dan dipengaruhi oleh budaya serta waktu.
KASUS
Lauren Walsh, wanita berusia 21 tahun
menderita Obsessive Compulsive Disorder (OCD). OCD menyerang mental dengan
ciri-ciri selalu berpikir berulang-ulang dan melakukan aktivitas yang juga
dilakukan berulang-ulang. Kelainan ini membuat Lauren merasa menjadi orang yang
tidak normal.
Misalnya, dia selalu menghabiskan banyak
waktu untuk mencuci tangan berjam-jam. Jika dihitung-hitung, ia bisa
menghabiskan 10 jam sehari di kamar mandi, seperti dikutip dari DailyMirror.
Lauren juga selalu merasa takut karena dia berpikir setiap inchi tubuhnya
dihinggapi bakteri, sehingga dia harus mandi lagi dalam waktu lama untuk
membersihkannya.
“Ini sampai ke titik saat saya harus mandi
lima kali sehari, masing-masing berlangsung dua jam,” ujar Lauren.
“Rasanya, ada begitu banyak hal, yang harus
saya lakukan. Setiap menit dari bagian tubuh saya harus dikontrol.” Penderitaan
ini dialami Lauren sejak didiagnosis mengalami gangguan OCD di usia 12 tahun.
OCD yang diderita Lauren seperti menyebabkan suara di kepalanya, yang dia sebut
‘iblis di bahu’. Kondisi ini seolah meyakinkan dia selalu dalam keadaan kotor.
Lauren tahu itu tidak rasional, tapi dia
tidak berdaya mengendalikan dirinya. Lauren memaparkan bagaimana OCD
mengendalikan hidupnya selama bertahun-tahun. Waktu itu, ibunya Linda merasa
heran, dengan kebiasaan Lauren.
Lauren terus menerus mencuci tangan. Tidak
hanya di rumah, bahkan juga di sekolah. Penderitaan Lauren membuat dia sulit
bersosialisasi dengan teman-teman sekolah. Banyak teman-teman sekolah yang
kemudian menjuluki Lauren sebagai orang aneh dan stres.
Di usia 10 tahun, Lauren pernah menangis tak
terkendali karena dia merasa ada sesuatu yang salah dengan dirinya. Tapi, waktu
itu tidak tau kenapa dia merasa bersalah. Barulah ketika berusia 12 tahun,
penderitaan Lauren dikenali penyebabnya. Dia didiagnosis OCD. Saat memasuki
remaja, OCD menjadi semakin melumpuhkan mental Lauren. Kamar tidurnya penuh
dengan catatan karena Lauren merasa terdorong untuk terus menulis.
“Aku punya catatan untuk diingat kembali
ketika saya berumur 12 tahun. Orang beranggapan OCD adalah tentang mencuci
tangan sedikit lebih lama dari biasanya dan kemudian Anda melanjutkan aktivitas
seperti orang lain. Tapi, ternyata tidak.” Lauren melanjutkan, “Keluar dari
tempat tidur memakan waktu 20 menit setiap pagi karena saya harus berbalik
sampai saya berada di sudut kanan. Jika tidak merasa benar, saya ulangi sampai
hal itu benar.” Setelah itu, dia akan memastikan tempat tidur selalu dalam
keadaan sempurna tanpa ada kain yang kusut. Dia harus mencuci sarung bantal
setiap hari dan seprai setidaknya tiga kali seminggu.
“Di kamar mandi aku menggunakan sabun yang
berbeda dan lotion untuk bagian tubuh yang berbeda, dimulai di bagian atas dan
bekerja dengan cara ke bawah. Dibutuhkan waktu dua jam setiap kali mandi,” kata
Lauren. Untuk menggunakan toilet, dia harus menyekanya dulu kemudian duduk
dengan cara yang benar. Lalu, dia akan selalu merobek lembar pertama kertas
toilet karena takut telah tersentuh orang lain. Kemudian dia akan merobek tisu
sebanyak 12 lembar untuk selanjutnya dilipat dengan cara tertentu sebelum
dipakai. Untuk sekadar bangun dari toilet pun, dia masih harus memutar sampai
benar-benar merasa nyaman.
“Saya harus berjalan lurus sempurna dan
setiap langkah harus merasa benar di kaki. Jika tidak, saya harus mulai dari
awal lagi. Jadi, saya akan berada di sana selama berjam-jam.” Kondisi Lauren,
mirip seperti yang dialami Sam Hancox, yang akhirnya meninggal akibat kasus
serupa. Sam mengalami dehidrasi dan infeksi kulit karena penyakit OCD selama 30
tahun. Penyakit ini membuat Sam selalu mandi sampai 20 jam setiap hari karena,
dia takut kuman.
“Kasus itu membuat saya marah, karena bisa saja terjadi pada saya,”
ujar Lauren yang sangat takut riwayat hidupnya akan berakhir tragis sama
seperti Sam
ANALISIS
Mari kita menganalisis
apakah yang terjadi pada lauren.
OCD sendiri merupakan
suatu gangguan dimana si penderita merasakan keterpaksaan berfikir tentang
hal-hal yang tidak ingin mereka pikirkan atau melakukan hal yang tidak mereka
inginkan. Terbukti dalam kasus ini si penderita mengalami kecemasan tentang kuman
sehingga dirinya akan terus menerus membersihkan diri secara berlebihan.
Disfungsi
Psikologis
a. Secara
Kognitif: Lauren selalu merasa cemasa akan kebersihan dirinya, selalu merasa takut karena dia berpikir
setiap inchi tubuhnya dihinggapi bakteri, sehingga dia harus mandi lagi dalam
waktu lama untuk membersihkannya. Sampai
akhirnya dia membutuhkan waktu 10 jam per hari hanya untuk membersihkan diri. Membuatnya
harus memperhatikan langkahnya juga membersihkan semua kegiatan dan benda yang
ada disekitarnya.
b. Secara Afektif: Kasus Lauren mirip seperti yang dialami Sam Hancox, yang pada
akhirnya meninggal akibat penyakit OCD yang dialaminya, yang membuat Lauren
merasa marah takut nasibnya berakhir sama seperti Sam Hancox.
c. Secara
Psikomotor: Lauren selalu menjaga jalan nya agar tetap lulus sempurna juga
menjaga langkah nya agar terasa benar di kakinya .
2. Distress (impairment)
:
a.
Fisik: Lauren melakukan aktivitas bersih bersih yang memakan waktu hingga
berjam-jam, ini akan membuatnya dehidrasi, kelelahan dan infeksi kulit
b. Psikis: Lauren merasakan seperti ada suara di
kepalanya, yang dia sebut ‘iblis di bahu’. Kondisi ini seolah meyakinkan dia
selalu dalam keadaan kotor.
3. Respon Atipikal
Lauren
selalu merasa cemas dengan dirinya sehingga setiap menit ia selalu mengecek
bagian tubuhnya agar merasa benar, mencuci sarung bantal setiap hari dan seprai setidaknya tiga kali
seminggu, menggunakan sabun yang berbeda dan lotion untuk bagian tubuh yang
berbeda
dan ini membuat Lauren melakukan hal-hal yang dapat mengganggu aktivitas
sehari-harinya, sulit
bersosialisasi dengan teman-teman sekolah. Juga banyak teman-teman sekolah yang
kemudian menjuluki Lauren sebagai orang aneh dan stres.
DAFTAR PUSTAKA
Riyanti, B.P. & Hendro, P. 1998. Psikologi Umum 2. Jakarta: Universitas Gunadarma.
Slamet,Suprapti & Sumarno Markam.
2003. Pengantar Psikologi Klinis.
Jakarta: Universitas Indonesia.
Hall, S. (1993). Teori-teori Psikodinamik
(Klinis). Yogyakarta : Kanisius

Tidak ada komentar:
Posting Komentar