BAB
1
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Golden Age atau fase emas
merupakan fase terpenting bagi perkembangan potensi belajar pada anak. Dimana pada masa ini terjadi kematangan fungsi fisik dan psikis
yang siap merespon stimulasi yang diberikan oleh lingkungan,. Masa ini juga
merupakan masa peletak dasar untuk mengembangkan kemampuan
kognitif, motorik, bahasa, sosio emosional, agama dan moral.
Di usia ini anak memiliki kemampuan mengingat paling baik. Ia juga
sangat mudah diarahkan pada hal yang benar. Oleh sebab itu pembentukan
kepribadian anak harus sudah ditata pada masa ini.
Stimulasi orang tua di masa
emas adalah hal terpenting yang mesti dilakukan di rumah atau melalui
pendidikan anak usia dini (PAUD). Stimulasi ini mencakup bagaimana
mengembangkan aspek motorik halus, motorik kasar, kognitif dan apektif juga
bahasa.
Stimulasi motorik halus dapat
berupa keterampilan yang menyangkut keluwesan jemari. Sedangkan motorik kasar
merupakan kemampuan untuk mengontrol gerakan tubuh yang mencakup keterampilan
mengendalikan otot-otot besar.
Sementara Kognitif adalah
kemampuan anak untuk memproses, menginterpretasikan, mengolah, mengategorikan
informasi yang diperolehnya melalui panca indra.
Bahasa dapat dimaknai sebagai suatu sistem
tanda, baik lisan maupun tulisan dan merupakan sistem komunikasi antar
manusia. Melalui berbahasa seseorang atau anak akan dapat mengembangkan
kemampuan bergaul (social skill) dengan orang lain.
1.2 Perumusan
Masalah
a.
Apa itu
Masa Golden Age ?
b.
Apa
yang dimaksud bahasa?
c.
Tahap apa
saja yang dilalui oleh anak dalam berbahasa?
1.3 Tujuan
Berdasarkan
rumusan masalah tersebut, tujuan penulisan makalah ini sebagai berikut:
a.
Akan
mendeskripsikan pengertian dari masa Golden
Age ?
b.
Akan
mendeskripsikan pengertian dari bahasa?
c.
Akan
mendeskripsikan tentang tahap yang dilalui oleh anak dalam berbahasa
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Masa
Golden Age
Golden Age atau fase emas merupakan fase
terpenting bagi perkembangan potensi belajar pada anak. Dimana pada masa ini terjadi kematangan fungsi fisik dan psikis
yang siap merespon stimulasi yang diberikan oleh lingkungan,. Masa ini juga
merupakan masa peletak dasar untuk mengembangkan kemampuan
kognitif, motorik, bahasa, sosio emosional, agama dan moral. Pada masa ini, otak mengalami
proses tumbuh kembang yang cepat dan kritis. Kebutuhan nutrisi juga sangat
diperlukan untuk memaksimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak pada usia ini.
Karena gizi dan stimulus atau rangsangan adalah hal terpenting dalam
perkembangan otak anak.
Di usia ini anak memiliki kemampuan mengingat paling baik. Ia juga
sangat mudah diarahkan pada hal yang benar. Oleh sebab itu pembentukan
kepribadian anak harus sudah ditata pada masa ini.
Stimulasi orang tua di masa emas adalah hal terpenting yang mesti
dilakukan di rumah atau melalui pendidikan anak usia dini (PAUD).Disini
anak perlu mendapatkan suatu pola asuh yang tepat untuk membentuk pola pikir,
emosi dan kepribadian anak seperti menjadi orang tua yang dapat dijadikan
teladan bagi anak, memberikan pendampingan pada anak saat menyaksikan tayangan
televise, dan memberikan fasilitas belajar atau bacaan yang mendidik, agar
anak-anak dapat tumbuh sesuai dengan tahap perkembangannya. Stimulasi ini mencakup
bagaimana mengembangkan aspek motorik halus, motorik kasar, kognitif dan
apektif.
Stimulasi Motorik Halus dapat berupa keterampilan yang menyangkut keluwesan jemari. Hal
ini bisa dilakukan lewat permainan yang merangsang keterampilan tangan anak, seperti
melipat kertas, mewarnai, memasukkan sendok ke mulut, dsb. Kemampuan motorik
halus sangat diperlukan sebagai dasar kemapuan menulis dan aktivitas lainnya,
diantaranya makan, minum, mengancingkan baju, memakai kaos kaki dll.
Sedangkan Motorik Kasar merupakan
kemampuan untuk mengontrol gerakan tubuh yang mencakup keterampilan
mengendalikan otot-otot besar. Perkembangan motorik kasar bisa diperoleh
melalui permainan merangkak, berjalan, memanjat, berlari, berguling dan berenang.
Sementara Kognitif adalah kemampuan anak untuk memproses,
menginterpretasikan, mengolah, mengategorikan informasi yang diperolehnya
melalui panca indra.
Kemampuan ini selanjutnya
berkembang menjadi kemampuan berpikir yang logis. Perkembangan daya pikir anak
menentukan kemampuannya dalam memahami lingkungannya baik secara logis maupun
realistis. Dengan semakin berkembangnya kemampuan kognitifnya, pemahaman anak
mengenai objek, orang serta peristiwa di lingkungannya akan membuat anak
melakukan penilaian secara akurat.
Dalam hal ini kebiasaan
mengajak anak banyak bicara akan sangat baik dalam meningkatkan kemampuan
kognitif yang diperoleh lewat penguasaan bahasa.
2.2 Bahasa
Bahasa merupakan
alat yang penting bagi setiap orang. Bahasa dapat dimaknai sebagai suatu
sistem tanda, baik lisan maupun tulisan dan merupakan sistem komunikasi antar
manusia. Melalui berbahasa seseorang atau anak akan dapat mengembangkan
kemampuan bergaul (social skill) dengan orang lain.
Penguasaan keterampilan bergaul dalam lingkungan sosial dimulai dengan
penguasaan kemampuan berbahasa. Tanpa bahasa seseorang tidak akan
dapat berkomunikasi dengan orang lain. Anak dapat mengekspresikan pikirannya menggunakan
bahasa sehingga orang lain dapat menangkap apa yang dipikirkan oleh
anak. Komunikasi antar anak dapat terjalin dengan baik dengan bahasa
sehingga anak dapat membangun hubungan sehingga tidak mengherankan bahwa bahasa
dianggap sebagai salah satu indikator kesuksesan seorang anak. Anak yang
dianggap banyak berbicara, kadang merupakan cerminan anak yang cerdas.
Bahasa
memungkinkan manusia berfikir secara abstrak di mana objek-objek yang faktual
ditransformasikan menjadi simbol-simbol bahasa yang bersifat abstrak. Dengan
adanya transformasi ini maka manusia dapat berfikir mengenai satu objek
tertentu meskipun objek tersebut secara faktual tidak berada di tempat di mana
kegiatan berfikir itu dilakukan. Adanya simbol bahasa yang bersifat abstrak ini
memungkinkan manusia untuk untuk memikirkan sesuatu secara berlanjut. Demikian
juga bahasa memberikan kemampuan untuk berfikir secara teratur dan sistematis.
Transformasi objek faktual menjadi simbol abstrak yang diwujudkan lewat
pembendaharaan ini dirangkaikan oleh tata bahasa untuk mengemukakan suatu jalan
pemikiran atau ekspresi perasaan.
Bahasa mencakup komunikasi non verbal dan komunikasi
verbal serta dapat dipelajari secara teratur tergantung pada kematangan
sertakesempatan belajar yang dimiliki seseorang, demikian juga bahasa
merupakan landasan seorang anak untuk mempelajari hal-hal lain. Sebelum
dia belajar pengetahuan-pengetahuan lain, dia perlu menggunakan bahasa agar
dapat memahami dengan baik . Anak akan dapat mengembangkan kemampuannya dalam
bidang pengucapan bunyi, menulis, membaca yang sangat mendukung kemampuan
keaksaraan di tingkat yang lebih tinggi.
2.3
Tahap
dalam Berbahasa
Setiap anak mempunyai perkembangan
bahasa lisan yang berbeda-beda karena muatan informasi yang dapat dikumpulkan
anak tidak hanya tergantung pada banyaknya dan jenis penglihatan dan
pendengaran yang mereka miliki. Namun juga pada cara mereka belajar menggunakan
penglihatan dan pendengaran itu. Masing-masing anak belajar memanfaatkan
informasi sensorik yang tersedia dengan caranya sendiri. Beberapa anak
berinteraksi dengan dunianya terutama dengan sentuhannya, sementara yang lain
mungkin lebih bergantung pada penglihatan dan pendengarannya. Bagi kebanyakan
anak, kombinasi dari kesemuanya itu akan paling bermanfaat. Bagi anak lainnya, menggunakan
pendengaran, penglihatan, dan sentuhan pada saat yang bersamaan terasa
membingungkan dan dalam situasi yang berbedaan, mereka mungkin memilih untuk
menggantungkan terutama satu indera.
Semua anak tampaknya melalui serangkaian
tahap bahasa ketika mereka memperoleh bahasa. Tahap itu dapat berbeda, tetapi
urutan tahap pemerolehan bahasa itu tampaknya sama bagi setiap anak. Menurut
Aitchison (1984),
Tahap
menangis, yakni suatu tahap dimana bayi mengeluarkan
tangisan. Tangisan bayi ternyata mempunyai beberapa tipe makan. Sebenarnya
tidaklah tepat bila dikatakan bahwa tangisan adalah fase perkembangan bahasa,
karena tampaknya tangisan itu merupakan komunikasi yang bersifat instingtif.
Hasil penelitian membuktikan bahwa makna tangisan bayi bersifat universal.
Tahap
mendengkur, yakni suatu tahap ketika anak itu mulai
mengeluarkan bunyi dengkuran seperti dengkur burung merpati. Bunyi seperti itu
sering diidentifikasi sebagai mirip dengan vokal, meskipun pengecekan dengan
spektogram menunjukkan bunyi dengkuran itu tidak sama dengan vokal orang
dewasa.
Tahap meraban, yakni tahap di mana anak
itu mulai melatih alat-alat ucapkan dengan mengeluarkan bunyi mama, dada dan
sejenisnya. Bunyi-bunyi semacam itu bersifat universal. Artinya gejala semacam
itu berlaku bagi setiap anak di dunia, tidak pandang bulu anak itu berbahasa
apa dan dari etnis dan bangsa apa anak itu. Pada tahap ini anak juga masih
mendengkur di samping meraban.
Tahap
pola intonasi, yakni tahap di mana anak itu mulai
menirukan pola intonasi orang tuanya.
Tahap
tuturan satu kata, yakni tahap di mana anak itu mulai
memperoleh empat atau lima kata sampai kurang lebih lima puluh kata. Rata-rata
anak memperoleh lima belas kata yang berupa nama orang, binatang atau benda.
Tahap
tuturan dua kata, yakni tahap anak memperoleh kata
mencapai ratusan jumlahnya. Tahap ini sering disebut sebagai tahap telegrafis
karena tuturan anak itu mirip dengan telegram yang sangat singkat, lazimnya dua
kata yang sudah merupakan kalimat utuh.
Tahap
infeksi kata, yakni tahap anak mulai memperoleh
kata-kata turunan dari kata benda atau kata kerja, dan lain-lain dan anak
memperoleh kata ulang serta mungkin juga kata majemuk.
Tahap
bentuk tanya dan ingkar yaitu tahap di mana anak itu
mulai dapat menggunakan bentuk tanya dan bentuk ingkar.
Tahap
konstruksi yang jarang atau kompleks yaitu tahap di mana
anak itu mulai menggunakan konstruksi yang jarang digunakan atau konstruksi
yang kompleks, seperti kalimat majemuk.
Tahap
tuturan yang matang, yaitu tahap di mana anak sudah
memperoleh tuturan yang lengkap yang mirip atau sama dengan tuturan yang
dikuasai oleh orang dewasa. Pada tahap itu, periode kritis sudah lewat dan anak
sudah menguasai kaidah tata bahasanya secara relatif sempurna.
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Fase terpenting bagi perkembangan potensi belajar pada anak
terjadi pada fase emas atau golden age . Dimana
pada masa ini terjadi kematangan fungsi fisik dan
psikis yang siap merespon stimulasi yang diberikan oleh lingkungan.
Proses perkembanagan bahasa anak dapat berlangsung dengan baik, apabila
di dukung oleh beberapa faktor diataranya perolehan bahasa anak, pola asuh,
keluarga, dan tidak kalah pentingnya yaitu faktor usia (umur anak). Dalam
berbahasa pun terdapat tahap – tahapan yang harus di lalui oleh anak seperti tahap menangis, mendengkur,
pola intonasi, tuturan satu kata, tuturan dua kata, infeksi kata , bentuk tanya
dan ingkar, konstruksi, tuturan yang matang
DAFTAR
PUSTAKA
Djamarah, Syaeful Bahri. 2000. Psikologi Belajar Edisi
II. Jakarta: Rineka Cipta
Dalyono, M. 1997. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta
Abror, Abdu. Rachman. 1993. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Tiara
Wacana Yogya

