Minggu, 14 Juni 2015

Potensi Belajar dan Bahasa pada Anak-Anak

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Golden Age atau fase emas merupakan fase terpenting bagi perkembangan potensi belajar pada anak. Dimana pada masa ini terjadi kematangan fungsi fisik dan psikis yang siap merespon stimulasi yang diberikan oleh lingkungan,. Masa ini juga merupakan masa peletak dasar untuk mengembangkan kemampuan kognitif, motorik, bahasa, sosio emosional, agama dan moral.
Di usia ini anak memiliki kemampuan mengingat paling baik. Ia juga sangat mudah diarahkan pada hal yang benar. Oleh sebab itu pembentukan kepribadian anak harus sudah ditata pada masa ini.

Stimulasi orang tua di masa emas adalah hal terpenting yang mesti dilakukan di rumah atau melalui pendidikan anak usia dini (PAUD). Stimulasi ini mencakup bagaimana mengembangkan aspek motorik halus, motorik kasar, kognitif dan apektif juga bahasa.
Stimulasi motorik halus dapat berupa keterampilan yang menyangkut keluwesan jemari. Sedangkan motorik kasar merupakan kemampuan untuk mengontrol gerakan tubuh yang mencakup keterampilan mengendalikan otot-otot besar.
Sementara Kognitif adalah kemampuan anak untuk memproses, menginterpretasikan, mengolah, mengategorikan informasi yang diperolehnya melalui panca indra.
Bahasa dapat dimaknai sebagai suatu sistem tanda, baik lisan maupun tulisan dan merupakan sistem komunikasi antar manusia. Melalui berbahasa seseorang atau anak akan dapat mengembangkan kemampuan bergaul (social skill) dengan orang lain.

1.2  Perumusan Masalah

a.       Apa itu Masa Golden Age ?
b.      Apa yang dimaksud bahasa?
c.       Tahap apa saja yang dilalui oleh anak dalam berbahasa?

1.3  Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, tujuan penulisan makalah ini sebagai berikut:
a.       Akan mendeskripsikan pengertian dari masa Golden Age ?
b.      Akan mendeskripsikan pengertian dari bahasa?
c.       Akan mendeskripsikan tentang tahap yang dilalui oleh anak dalam berbahasa


BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Masa Golden Age
Golden Age atau fase emas merupakan fase terpenting bagi perkembangan potensi belajar pada anak. Dimana pada masa ini terjadi kematangan fungsi fisik dan psikis yang siap merespon stimulasi yang diberikan oleh lingkungan,. Masa ini juga merupakan masa peletak dasar untuk mengembangkan kemampuan kognitif, motorik, bahasa, sosio emosional, agama dan moral. Pada masa ini, otak mengalami proses tumbuh kembang yang cepat dan kritis. Kebutuhan nutrisi juga sangat diperlukan untuk memaksimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak pada usia ini. Karena gizi dan stimulus atau rangsangan adalah hal terpenting dalam perkembangan otak anak.
Di usia ini anak memiliki kemampuan mengingat paling baik. Ia juga sangat mudah diarahkan pada hal yang benar. Oleh sebab itu pembentukan kepribadian anak harus sudah ditata pada masa ini.

Stimulasi orang tua di masa emas adalah hal terpenting yang mesti dilakukan di rumah atau melalui pendidikan anak usia dini (PAUD).Disini anak perlu mendapatkan suatu pola asuh yang tepat untuk membentuk pola pikir, emosi dan kepribadian anak seperti menjadi orang tua yang dapat dijadikan teladan bagi anak, memberikan pendampingan pada anak saat menyaksikan tayangan televise, dan memberikan fasilitas belajar atau bacaan yang mendidik, agar anak-anak dapat tumbuh sesuai dengan tahap perkembangannya. Stimulasi ini mencakup bagaimana mengembangkan aspek motorik halus, motorik kasar, kognitif dan apektif.

Stimulasi Motorik Halus dapat berupa keterampilan yang menyangkut keluwesan jemari. Hal ini bisa dilakukan lewat permainan yang merangsang keterampilan tangan anak, seperti melipat kertas, mewarnai, memasukkan sendok ke mulut, dsb. Kemampuan motorik halus sangat diperlukan sebagai dasar kemapuan menulis dan aktivitas lainnya, diantaranya makan, minum, mengancingkan baju, memakai kaos kaki dll.

Sedangkan Motorik Kasar merupakan kemampuan untuk mengontrol gerakan tubuh yang mencakup keterampilan mengendalikan otot-otot besar. Perkembangan motorik kasar bisa diperoleh melalui permainan merangkak, berjalan, memanjat, berlari, berguling dan berenang.

Sementara Kognitif adalah kemampuan anak untuk memproses, menginterpretasikan, mengolah, mengategorikan informasi yang diperolehnya melalui panca indra.
Kemampuan ini selanjutnya berkembang menjadi kemampuan berpikir yang logis. Perkembangan daya pikir anak menentukan kemampuannya dalam memahami lingkungannya baik secara logis maupun realistis. Dengan semakin berkembangnya kemampuan kognitifnya, pemahaman anak mengenai objek, orang serta peristiwa di lingkungannya akan membuat anak melakukan penilaian secara akurat.
Dalam hal ini kebiasaan mengajak anak banyak bicara akan sangat baik dalam meningkatkan kemampuan kognitif yang diperoleh lewat penguasaan bahasa.

2.2  Bahasa
     Bahasa merupakan alat yang penting bagi setiap orang. Bahasa dapat dimaknai sebagai suatu sistem tanda, baik lisan maupun tulisan dan merupakan sistem komunikasi antar manusia. Melalui berbahasa seseorang atau anak akan dapat mengembangkan kemampuan bergaul (social skill) dengan orang lain. Penguasaan keterampilan bergaul dalam lingkungan sosial dimulai dengan penguasaan kemampuan berbahasa. Tanpa bahasa seseorang tidak akan dapat berkomunikasi dengan orang lain. Anak dapat mengekspresikan pikirannya menggunakan bahasa sehingga orang lain dapat menangkap apa yang dipikirkan oleh anak. Komunikasi antar anak dapat terjalin dengan baik dengan bahasa sehingga anak dapat membangun hubungan sehingga tidak mengherankan bahwa bahasa dianggap sebagai salah satu indikator kesuksesan seorang anak. Anak yang dianggap banyak berbicara, kadang merupakan cerminan anak yang cerdas.

Bahasa memungkinkan manusia berfikir secara abstrak di mana objek-objek yang faktual ditransformasikan menjadi simbol-simbol bahasa yang bersifat abstrak. Dengan adanya transformasi ini maka manusia dapat berfikir mengenai satu objek tertentu meskipun objek tersebut secara faktual tidak berada di tempat di mana kegiatan berfikir itu dilakukan. Adanya simbol bahasa yang bersifat abstrak ini memungkinkan manusia untuk untuk memikirkan sesuatu secara berlanjut. Demikian juga bahasa memberikan kemampuan untuk berfikir secara teratur dan sistematis. Transformasi objek faktual menjadi simbol abstrak yang diwujudkan lewat pembendaharaan ini dirangkaikan oleh tata bahasa untuk mengemukakan suatu jalan pemikiran atau ekspresi perasaan.

Bahasa mencakup komunikasi non verbal dan komunikasi verbal serta dapat dipelajari secara teratur tergantung pada kematangan sertakesempatan belajar yang dimiliki seseorang, demikian juga bahasa merupakan landasan seorang anak untuk mempelajari hal-hal lain. Sebelum dia belajar pengetahuan-pengetahuan lain, dia perlu menggunakan bahasa agar dapat memahami dengan baik . Anak akan dapat mengembangkan kemampuannya dalam bidang pengucapan bunyi, menulis, membaca yang sangat mendukung kemampuan keaksaraan di tingkat yang lebih tinggi.
2.3  Tahap dalam Berbahasa
Setiap anak mempunyai perkembangan bahasa lisan yang berbeda-beda karena muatan informasi yang dapat dikumpulkan anak tidak hanya tergantung pada banyaknya dan jenis penglihatan dan pendengaran yang mereka miliki. Namun juga pada cara mereka belajar menggunakan penglihatan dan pendengaran itu. Masing-masing anak belajar memanfaatkan informasi sensorik yang tersedia dengan caranya sendiri. Beberapa anak berinteraksi dengan dunianya terutama dengan sentuhannya, sementara yang lain mungkin lebih bergantung pada penglihatan dan pendengarannya. Bagi kebanyakan anak, kombinasi dari kesemuanya itu akan paling bermanfaat. Bagi anak lainnya, menggunakan pendengaran, penglihatan, dan sentuhan pada saat yang bersamaan terasa membingungkan dan dalam situasi yang berbedaan, mereka mungkin memilih untuk menggantungkan terutama satu indera.

Semua anak tampaknya melalui serangkaian tahap bahasa ketika mereka memperoleh bahasa. Tahap itu dapat berbeda, tetapi urutan tahap pemerolehan bahasa itu tampaknya sama bagi setiap anak. Menurut Aitchison (1984),

Tahap menangis, yakni suatu tahap dimana bayi mengeluarkan tangisan. Tangisan bayi ternyata mempunyai beberapa tipe makan. Sebenarnya tidaklah tepat bila dikatakan bahwa tangisan adalah fase perkembangan bahasa, karena tampaknya tangisan itu merupakan komunikasi yang bersifat instingtif. Hasil penelitian membuktikan bahwa makna tangisan bayi bersifat universal.

Tahap mendengkur, yakni suatu tahap ketika anak itu mulai mengeluarkan bunyi dengkuran seperti dengkur burung merpati. Bunyi seperti itu sering diidentifikasi sebagai mirip dengan vokal, meskipun pengecekan dengan spektogram menunjukkan bunyi dengkuran itu tidak sama dengan vokal orang dewasa.
Tahap meraban, yakni tahap di mana anak itu mulai melatih alat-alat ucapkan dengan mengeluarkan bunyi mama, dada dan sejenisnya. Bunyi-bunyi semacam itu bersifat universal. Artinya gejala semacam itu berlaku bagi setiap anak di dunia, tidak pandang bulu anak itu berbahasa apa dan dari etnis dan bangsa apa anak itu. Pada tahap ini anak juga masih mendengkur di samping meraban.

Tahap pola intonasi, yakni tahap di mana anak itu mulai menirukan pola intonasi orang tuanya.

Tahap tuturan satu kata, yakni tahap di mana anak itu mulai memperoleh empat atau lima kata sampai kurang lebih lima puluh kata. Rata-rata anak memperoleh lima belas kata yang berupa nama orang, binatang atau benda.

Tahap tuturan dua kata, yakni tahap anak memperoleh kata mencapai ratusan jumlahnya. Tahap ini sering disebut sebagai tahap telegrafis karena tuturan anak itu mirip dengan telegram yang sangat singkat, lazimnya dua kata yang sudah merupakan kalimat utuh.

Tahap infeksi kata, yakni tahap anak mulai memperoleh kata-kata turunan dari kata benda atau kata kerja, dan lain-lain dan anak memperoleh kata ulang serta mungkin juga kata majemuk.

Tahap bentuk tanya dan ingkar yaitu tahap di mana anak itu mulai dapat menggunakan bentuk tanya dan bentuk ingkar.

Tahap konstruksi yang jarang atau kompleks yaitu tahap di mana anak itu mulai menggunakan konstruksi yang jarang digunakan atau konstruksi yang kompleks, seperti kalimat majemuk.

Tahap tuturan yang matang, yaitu tahap di mana anak sudah memperoleh tuturan yang lengkap yang mirip atau sama dengan tuturan yang dikuasai oleh orang dewasa. Pada tahap itu, periode kritis sudah lewat dan anak sudah menguasai kaidah tata bahasanya secara relatif sempurna.



BAB III
PENUTUP

3.1  Kesimpulan

Fase terpenting bagi perkembangan potensi belajar pada anak terjadi pada fase emas atau golden age . Dimana pada masa ini terjadi kematangan fungsi fisik dan psikis yang siap merespon stimulasi yang diberikan oleh lingkungan.
Proses perkembanagan bahasa anak dapat berlangsung dengan baik, apabila di dukung oleh beberapa faktor diataranya perolehan bahasa anak, pola asuh, keluarga, dan tidak kalah pentingnya yaitu faktor usia (umur anak). Dalam berbahasa pun terdapat tahap – tahapan yang harus di lalui  oleh anak seperti tahap menangis, mendengkur, pola intonasi, tuturan satu kata, tuturan dua kata, infeksi kata , bentuk tanya dan ingkar, konstruksi, tuturan yang matang


DAFTAR PUSTAKA

Djamarah, Syaeful Bahri. 2000. Psikologi Belajar Edisi II. Jakarta: Rineka Cipta
Dalyono,  M. 1997. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta
Abror, Abdu. Rachman. 1993. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya


Jumat, 12 Juni 2015

Softskill

THEMATIC APPERCEPTION TEST (TAT)
 TAT diciptakan oleh seorang psikolog dari Harvard bernama Morgan dan Murray pada tahun 1930-an dan TAT yang lazim dilakukan kepada orang-orang terdiri dari setumpuk kartu bergambar, yang mengandung ekspresi-ekspresi yang kuat. Kartu TAT ini juga di kategorikan berdasarkan gender, B untuk boys, G untuk girls dan M-F untuk maleand female, yakni untuk kedua jenis.
Bentuk modifikasi dari TAT adalah CAT (Childrena’s Apperception Test), yang menyediakan gambar yang terfokus pada konflik, hubungan orang tua, permusuhan dengan saudara kandung, dan situasi lain yang sering ditemui pada anak-anak. Tes lain yang mirip dengan TAT dan CAT adalah 
Michigan Picture Story Test (MPST), terdiri dari material yang menggambarkan anak-anak dalam hubungannya dengan orang tua, polisi, dan figur otoriter lainnya, juga teman-teman. Tes ini sangat bermanfaat dalam melihat struktur dari sikap anak-anak terhadap orang dewasa dan teman-teman sekaligus mengevaluasi masalah yang mungkin timbul.
Selain itu ada juga tes Make-A-Picture Story (MAPS), yang memiliki kesamaan dengan MPST dalam hal tujuan dan potensi interpretasi yang dimiliki. Perbedaan MAPS dengan tes lain yaitu, pada MAPS klien diperbolehkan memilih karakter yang akan diletakkan pada latar belakang panggung yang kecil, untuk kemudian klien membuat cerita berdasarkan situasi tersebut.
TAT ini didasarkan pada teori needs Murray yang memandang bahwa dalam suatu perilaku manusia pasti didorong oleh adanya motivasi internal dan eksternal, sedangkan lingkungan dipandang sebagai press (tekanan) yang mempengaruhi dorongan tersebut. Keduanya akan membentuk suatu interaksi antara kebutuhan dan lingkungan yang disebut sebagai tema. Kesatuan tema merupakan kesatuan interaksi itu yang terbentuk sejak jaman kanak-kanak tanpa disadari, dan ini merupakan kunci dari suatu perilaku unik (khas) seseorang.
Dalam tes-tes kepribadian dengan pendekatan proyektif, klien berespon terhadap stimulus yang tidak terstruktur dan ambigu sehingga tanpa sadar klien mengungkap struktur dasar dan dinamika kepribadiannya. Beberapa teknik proyektif yang terkenal dan digunakan secara luas antara lain tes RorschachThematic Apperception Test(TAT), ChildrenÂ’s Apperception Test (CAT), tes Draw-A-Person (DAP), tesMake-A-Picture Story (MAPS), Michigan Picture Story Test, dan Sentence Completion Test.
  • Hal yang menarik bagi kelompok adalah karna alat ini sangat berguna untuk mengetahui karakter seseorang hanya dengan menggunakan suatu alat 
  • Prospek jangka panjang, pasti akan sangat berguna untuk para psikolog dan akan terus berkembang seiring dengan berkembangnya ilmu psikologi yang semakin canggih.
  •  Tantangannya: tidak semua pasien mau dites menggunakan alat ini karna alat ini akan mengetahui karakteristik pasien dengan lengkap


Tes IST (Intelligenz Struktur Test)

Tes IST merupakan salah satu tes yang digunakan untuk mengukur inteligensi individu. Tes ini dikembangkan oleh Rudolf Amthauer di Frankfurt, Jerman pada tahun 1953. Amthauer mendefinisikan inteligensi sebagai keseluruhan struktur dari kemampuan jiwa-rohani manusia yang akan tampak jelas dalam hasil tes. Intelegensi hanya akan dapat dikenali (dilihat) melalui manifestasinya misalnya pada hasil atau prestasi suatu tes.

Berdasarkan pemikiran ini Amthauer menyusun sebuah tes yang dinamakan IST dengan hipotesis kerja sebagai berikut: “Komponen dalam struktur tersebut tersusun secara hierarkis; maksudnya bidang yang dominan kurang lebih akan berpengaruh pada bidang-bidang yang lain; kemampuan yang dominan dalam struktur intelegensi akan menentukan dan mempengaruhi kemampuan yang lainnya.”

 Pandangan Amthaeur pada dasarnya didasari oleh teori faktor, baik itu teori bifaktor, teori multifaktor, model struktur inteligensi Guilford dan teori hirarki faktor. Berdasarkan teori faktor, untuk mengukur inteligensi seseorang diperlukan suatu rangkaian baterai tes yang terdiri dari subtes-subtes. Antara subtes satu dengan lainnya, ada yang saling berhubungan karena mengukur faktor yang sama (general factor atau group factor), tapi ada juga yang tidak berhubungan karena masing-masingnya mengukur faktor khusus (special factor). Sedangkan kemampuan seseorang itu merupakan penjumlahan dari seluruh skor subtes-subtes. Maka Amthauer menyusun IST sebagai baterai tes yang terdiri dari 9 subtes (Polhaupessy, dalam Diktat Kuliah IST UNPAD, 2009).

Karakteristik dari baterai tes Amthauer menunjukkan adanya suatu interkorelasi yang rendah antar subtesnya (r=0.25) dan korelasi antara subtes dengan jumlah (keseluruhan subtes) yang rendah pula (r=0.60).

Semenjak diciptakan, IST terus dikembangkan oleh Amthauer dengan bantuan dari para koleganya

  • Hal yang menarik bagi kelompok adalah dengan sebuah tes kita dapat mengukur intelegensi seseorang.
  • Prospek jangan panjang akan sangat memudahkan psikolog untuk mengukur intelegensi seseorang dan menempatkan pekerjaannya yang sesuai dengan intelegensi dan kemampuannya pasti akan terus berkembang karna manfaatnya yang sangat berguna pasti akan selalu di butuhkan.
  • Tantangannya: peserta yang mengikuti tes sering mengalami kesulitan dalam menghadapi tes ini.



Lie Detector

Orang-orang berbohong dan menipu orang lain karena berbagai alasan. Paling sering, berbohong adalah mekanisme pertahanan yang digunakan untuk menghindari masalah dengan hukum, atasan atau figur otoritas. Terkadang, Anda dapat mengetahui bahwa seseorang itu berbohong, tetapi lain waktu mungkin tidak begitu mudah. Polygraphs, atau yang biasa disebut “detektor kebohongan/lie detector” adalah alat yang memantau seseorang melalui reaksi fisiologis.


Tampak bagian jari jari orang yang di tes di pasangi sebuah sensor yang terhubung ke mesin


Tampak diatas sensor sensor juga dipasang di sekitar dada dan lengan untuk mendeteksi nadi dan jantung

Sebuah instrumen poligraf pada dasarnya adalah kombinasi alat-alat medis yang digunakan untuk memantau perubahan yang terjadi dalam tubuh. seseorang akan ditanya tentang peristiwa atau kejadian tertentu, para pemeriksa (operator alat lie detector sekaligus biasanya seorang penyidik atau forensic psychophysiologist ) tampak melihat bagaimana detak jantung, tekanan darah, laju pernapasan dan aktivitas elektro-dermal (keringat, dalam kasus ini jari-jari) perubahan perbandingan tingkat normal.

Fluktuasi mungkin menunjukkan bahwa orang ini sedang menipu atau berbohong. Lie Detector mendeteksi adanya kebohongan dari sistem gelombang. bila seseorang bohong maka gelombang akan bergetar cepat. sebaliknya jika seseorang jujur, maka gelombang tidak bergetar dengan cepat dan tidak terdeteksi oleh Lie Detector

Saat seseorang melakukan sebuah tes kebohongan, maka orang tersebut akan dipasangkan 4 sampai 6 sensor, dan dihubungkan dengan sebuah gambar grafik yang menunjukkan hasil hasil dari pertanyaan yang diajukan. Sensor sensor tersebut biasanya merekam aktifitas seperti yang disebutkan diatas. Kadang-kadang poligraf juga akan mencatat hal-hal seperti gerakan lengan dan kaki.

Ketika tes poligraf dimulai, sang investigator atau penanya akan memberi 3-4 pertanyaan yang simpel dan sederhana dengan jawaban yang diketahui dengan tujuan untuk membentuk suatu fisiologis “dasar.”. setelah itu beranjak ke pertanyaan berat yang kemudian indikatornya bisa ditampilkan dalam sebuah grafik naik turun mirip sebuah sesimograph pencatat gempa.



  •  Hal yang menarik bagi kelompok adalah alat ini dapat mengetahui bahwa seseorang berbohong walaupun bahasa tubuhnya menutupi bahwa iya tidak berbohong.
  •  Prospek jangka panjang pasti akan sangat di butuhkan untuk mengetahui seseorang dia berbohong atau tidak. Dan pasti akan sangat berkembang karna peneliti pasti akan memperbaiki hal yang kurang pada alat tersebut.
  • Tantangannya: tidak semua seseorang yang berbohong mau untuk dites menggunakan alat ini karna secara tidak langsung dia akan membuka aibnya sendiri 




- Mata Kuliah Softskill-
           -1PA10-

1. Astri Deristianti
2. Ayuningtyas Pramatasari
3. Chantika Ariesty Silooy
4. Dian Ratnasari
5. Ishma Shabur Annisa